Selasa, 25 Juni 2019

HILANGNYA JATI DIRI (Belajar dari sejarah Majapahit)

Berikut ini adalah tulisan seseorang yang disebarkan lewat whats app grup yang saya ikuti. Bagus menurut saya untuk dijadikan bahan renungan.

Silahkan dibaca :


"HILANGNYA JATI DIRI"
--------------------------------------------------
Belajar dari sejarah Majapahit
Oleh : Budiyanto
Praktisi Pendidikan

"Kebohongan yang konsiten disampaikan penguasa berulang-ulang akan menjadi kebenaran" (Hitler)

Mengingat sejarah Majapahit, penghianat negara yang bernama Halayuda adalah sosok yang mempunyai peran besar terhadap hancurnya negara Majapahit.

Demi jabatan, Halayuda yang peranan dalam perjuangan Majapahit itu nyaris tidak punya andil, berhasil dengan sempurna mengadu domba para pejuang sejati Majapahit.

Kelicikan Halayuda adalah memutar balik fakta dengan kebohongan yang konsisten disampaikan berulang-ulang sehingga kebohongan itu seolah menjadi kebenaran.

Kebohongan pertama dengan mengadu domba Rangga Lawe, dan memfitnah Nambi yang berambisi untuk menjadi patih padahal yang mengusulkan Nambi untuk menjadi patih adalah Halayuda sendiri, tujuannya untuk menghancurkan pahlawan sejati yang menghalangi nafsu kekuasaan supaya tidak tergantikan. Tujuan Halayuda sukses besar, dengan mengadu domba Rangga Lawe, sehingga terjadi pembrontakan Rangga Lawe. Dalam pembrontakan ini pahlawan sejati Rangga Lawe dan Kebo Anabrang gugur.

Siasat licik dan kebohongan berikutnya adalah memfitnah Nambi yang mengatakan bahwa Nambi pulang kampung itu dalam rangka menyusun kekuatan untuk membrontak kepada kerajaan Majapahit, padahal yang mengusulkan Nambi untuk cuti adalah Halayuda sendiri. Dan raja lebih percaya dengan laporan Halayuda. Pertempuran Nambi pun terjadi dan tidak terelakan, dalam kondisi tidak siap. Nambi diserang dan Nambi gugur dalam fitnah keji Halayuda.

Kelicikan dan kebohongan sebelum Nambi adalah hasutan terhadap Lembu Sora. Halayuda sengaja menghasut Lembu Sora dengan mengatakan bahwa Lembu Sora diasingkan supaya tidak punya pengaruh, padahal tujuan raja karena menghargai perjuangan Lembu Sora, hukuman atas pembunuhan Kebo Anabrang adalah dengan pengasingan tidak dengan hukuman mati. Lagi-lagi Halayuda menghasut Lembu Sora bahwa hukuman itu merendahkan wibawanya. Lembu Sora terpengaruh dan menuntut hingga terjadi pertempuran. Dalam pertempuran itu pahlawan sejati yang bernama Lembu Sora gugur. Si licik Halayuda yang tidak pernah berjuang di Majapahit tiba-tiba tampil sebagai penghancur dan penghianat negara berhasil menghabisi para pahlawan sejati.

Sepak terjang kelicikan, kebohongan dan kecurangan Halayuda mulai diketahui oleh para generasi muda. Dan dalam kemarahan anak-anak muda yang dipimpin Ra Kuti melakukan pembrontakan atas rusaknya Majapahit karena Halayuda. Pembrontakan terjadi dan Halayuda mati mengenaskan. Begitulah sejarah kekacauan dan kerusakan negara Majapahit karena dipimpin oleh manusia yang licik, tamak, pembohong, haus kekuasaan yang tidak mau tergantikan. Hidup penuh dengan licik, curang, bohong dan dosa maka mati Halayuda pun hina dan mengenaskan. Kelicikan, kecurangan, kezholiman, dan kebohongan tidak pernah ada yang abadi. Waktunya akan datang dalam kehinaan.

"Meski begitu lamanya kebohongan disembunyikan diujung dunia, waktu juga yang akan menelanjanginya." (Winton Churchill)

Sejarah Majapahit ini hendaknya dapat menjadi perenungan mendalam bagi kita. Hubungannya dengan sejarah Majapahit juga terulang dalam sejarah Indonesia walau bentuknya berbeda.

Indonesia juga berkali-kali dalam tragedi. Tragedi penjajahan Belanda, para pejuang dan pahlawan sejati dianggap extrimis. Dan para penjilat penjajah justru dianggap pahlawan dan pejuang negeri.

Tragedi berulang terjadi di Indonesia dari penjajahan Belanda, Jepang, hingga PKI. Semua selalu pola kerja hampir seirama dengan pola kerja Halayuda yaitu membolak-balikkan fakta.

PKI nyaris hidup di negeri Indonesia, dengan nasionalisme yang tinggi dari TNI maka PKI dapat ditumpas. Bagaimana pola kerja PKI ? Pola kerja PKI mirip dengan pola kerja Halayuda pejabat kerajaan Majapahit itu. Fitnah kejam, licik, dusta dan curang adalah pola kerja Halayuda yang terduplikasi oleh PKI. Senjata pamungkas PKI adalah adu domba dan membentur-benturkan Islam dengan Pancasila. Untuk itu Indonesia sebagai bangsa yang besar harus waspada dan bersatu.

Pengalaman buruk dan sejarah buruk dari kerajaan Majapahit ini harus dapat menjadi pelajaran agar kita lebih waspada. Hidupkan jati diri kita, bangkitkan jati diri kita sebagai bangsa yang besar.

Kisah para penghianat dalam sejarah Majapahit hendaknya menjadi pelajaran berharga. Halayuda dalam sejarah Majapahit itu adalah manusia tamak yang telah hilang jati dirinya. Manusia pembohong yang telah hilang rasa malunya, dan manusia licik yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Sekali lagi jadikan sejarah sebagai pelajaran berharga, sehingga kita menjadi lebih bijak dalam memahami setiap masalah. Halayuda itu bisa berbuat apa saja karena menjabat. Apakah mungkin ada yang menghargai manusia licik Halayuda itu ketika tidak menjabat?

Jabatan adalah amanah dan amanah itu pasti akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah. Semoga kisah sejarah Majapahit ini bermanfaat bagi kita. Aamiin.