Namaku Eksel. Umurku 9 tahun. Aku
duduk di bangku kelas 3 SD. Setiap hari aku selalu diejek teman karena nilai
ulanganku jelek. Aku sering dimarahi mamaku juga setiap hari karena aku malas
membaca.
Temanku Ima datang
menghampiriku,”Eksel, jangan menangis ya… Memangnya ada apa denganmu?”
”Aku sering tidak belajar, dan
kalau guruku mengajariku, aku tetap tidak bisa. Akhirnya nilaiku jadi nol”
Jawabku lemah…
“Oh, begitu Eksel…” Kata Ima
menghiburku, sambil memegang pundakku, “Kenapa kamu kalau di sekolah tidak bawa
uang jajan terus?” Tanyanya hati-hati.
“Aku…tidak bawa uang jajan karena
aku dimarahi terus oleh mamaku. Kata mama, selama 2 bulan eksel tidak dikasih
uang jajan karena malas belajar…” Jawabku, sambil mulai menangis lagi,
“Begitulah Ima”
Ima menatapku sedih, “Sudahlah…
nanti Eksel jajan bersamaku. Yang penting nanti mau belajar ya… Sudahlah…
jangan menangis lagi..” Ima terus menghiburku. Aku mengangguk perlahan.
Beruntung punya teman sebaik Ima. Aku menghapus air mata. Sementara bel tanda
istrahat pun berbunyi.
Ima langsung mengajakku ke
kantin. “Wah, sudah lama aku tidak makan bakwan jagung buatan Bu Mira” Gumamku
perlahan. Tapi rupanya masih terdengar oleh Ima. Akhirnya dia tahu makanan
paforitku.
“Eksel, kamu duduk dulu ya.. Aku
yang traktir” Kata Ima. Tak lama kemudian, Ima sudah datang membawa bakwan
jagung dan jus buah. Kamipun makan dengan lahap hingga bel masuk berdering.
Pelajaran berikut adalah Matematika, merupakan
pelajaran yang sangat sulit bagiku. Memang salahku sendiri karena jarang
belajar dan latihan. Aku menyesal, hingga tak terasa aku mulai menangis lagi.
Bu Guru yang melihatku menangis,
langsung menghampiriku,”Eksel, kenapa menangis, nak?” Tanya Bu Guru dengan
lembut.
“Eksel tidak bisa belajar
matematika, Bu. Eksel tidak bisa menghitung….karena…Eksel malas belajar”
Jawabku terbata-bata.
“Lho…Pelajaran tidak ada yang
susah kalau kita mau belajar, Eksel. Sekarang, Eksel ingin bisa ngga?”
“Ingin, Bu”
“Begini saja, kalau pulang sekolah,
Eksel mau kan belajar dulu sama Bu Guru. Jadi sementara pulangnya terlambat?”
“Baik, Bu” Aku mengangguk.
Sementara itu, ketika pelajaran
berlangsung, aku kembali disorakin teman-teman, karena nilai matematikaku
jelek. Aku mendapat nilai 2,0 nilai terendah di kelas. Bu Guru menenangkan
teman-teman, “Sudah…sudah… Sekarang Eksel mau belajar Kok. Jadi tidak perlu
ditertawakan. Bahkan seharusnya kalian memberi semangat kepada Eksel”
Aku menangis lagi, “Bu… Apakah
Allah tidak sayang kepada Eksel, Bu? Kenapa Eksel selalu dimarahi Mama? Kenapa
Eksel selalu disorakin teman-teman? Kenapa juga Eksel selalu nilainya jelek?”
Kataku terbata-bata,”Eksel ingin disayang Mama, tapi Mama malah tidak memberi
Eksel uang jajan selama 2 bulan, Bu… Eksel tidak disayang sama semua Bu…”
“Eh…. Eksel tidak boleh berkata
begitu. Allah itu sayang sama kita semua. Karena itu kita harus rajin sholat,
berdoa, dan juga belajar setiap hari. Selanjutnya sikap akhlah kita juga baik
kepada siapa saja, maka Allah pasti tambah saying kepada kita. Termasuk Mama
Eksel” Kata Bu Guru dengan lembut, “Eksel mengerti sekarang?”
“Mengerti, Bu”
“Saatnya kita belajar
Matematika..”
“Iya, Bu”
Akupun belajar dengan
sungguh-sungguh. Aku bertekad tidak malas lagi mulai hari ini. Aku belajar
mulai berhitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian. Dalam
hati aku bahagia sekali bisa belajar bersama Bu Guru, hingga tak terasa hari
semakin sore.
“Eksel, sekarang Eksel sudah
banyak kemajuan. Karena sudah sore, Eksel boleh pulang dulu”Kata Bu Guru.
“Iya Bu… Terima kasih…” Jawabku
sambil membereskan buku-bukuku.
“Eksel giat belajar di rumah ya…supaya
teman-temanmu tidak mengejekmu lagi” Nasehat Bu Guru lagi.
“Iya Bu”Jawabku sambil
mengangguk.
“Kalau Eksel giat belajar, pasti
disayang Allah, disayang Mamanya, teman-teman, bahkan semua orang…”
“Iya Bu… Terima kasih..”
Aku pun buru-buru pulang dengan
hati riang. Sampai di rumah, ketika mengucapkan salam,”Assalamu ‘alaikum”..
tidak ada jawaban… Rupanya tidak ada orang di rumah. Mungkin Mama ke rumah
Nenek. Ya, sudah… aku segera mandi, berganti pakaian dan segera menuju meja
makan. Tapi ternyata di meja makan sama sekali tidak ada makanan. Aku ingat,
masih punya simpanan di tempat tidurku. Uang itu kugunakan untuk membeli
makanan, es, dan kue.
Sehabis makan, barulah Mama
pulang.
“Darimana saja kau,Eksel? Kok
tidak biasanya pulang sekolah lama sekali?”Tanya Mama sedikit marah.
“Tadi sepulang sekolah, Eksel
belajar, Ma…sama Bu Guru”
Mama kelihatan senang, “Benar
Eksel? Eksel belajar apa?”
“Belajar Matematika, Bu. Penjumlahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian”
“Naaah…. Begitu doong… Eksel anak
Mama yang pintar…” Mama langsung memelukku dengan gembira, “Sudah lama Mama
menunggu kapan Eksel mau belajar lagi… Mama jadi terharu, Nak..”
“Eksel janji, mulai
sekarang..Eksel akan rajin belajar. Nanti ada ulangan Matematika lagi, Eksel
ingin dapat nilai yang bagus…”
“Oke… Mama dukung…”Kata Mama
senang.
“Sekarang Eksel mau sholat
Maghrib dulu, terus langsung belajar”
Akupun segera sholat maghrib dan
belajar seperti janjiku pada Mama. Kata Mama, kalau nilaiku 10 aku akan
dibelikan sepeda baru. Dan mulai besok aku akan diberi uang jajan.
Akhirnya tibalah saatnya, ulangan
Matematika yang kutunggu-tunggu. Aku penasaran, bisa ngga aku mengerjakannya.
Apakah usahaku belajar selama ini berhasil? Ketika kertas ulangan dibagikan,
tidak lupa aku berdoa terlebih dahulu. Ternyata, menurutku, soal Matematika kali
ini tidaklah terlalu susah. Semuanya sudah pernah kupelajari.
Saat pembagian hasil ulangan, Bu
Guru mengumumkan. Ternyata hasil ualnganku mendapatkan nilai….10. Teman-teman
bertepuk tangan dengan meriah… Ima langsung menghapiri dan menyalamiku, “Luar
biasa…Eksel.. Kamu hebat! Kamu pandai…!” Aku tersenyum haru. Tak terasa air
mataku menetes. Teman-teman lainnya juga tak ketinggalan menyalamiku satu per
satu. Aku bahagia!
Hari-hari selanjutnya adalah hari
bahagia buatku. Aku mendapatkan hadiah sepeda dari Mama. Aku mendapatkan uang
jajan lebih setiap hari, yang akhirnya kutabung sebagian. Dan lebih bahagia
lagi, aku mendapat banyak teman. Alhamdu lillah.. ternyata Allah sayang sama
kita semua…!
Kiriman : ICA ARDHINI, siswi SDIT
Ar-Risaalah Semanan Kalideres Jakarta Barat.
Bagi kalian yang ingin ceritanya
dimuat disini, silahkan kirimkan cerita kalian via email ke : mohammadsohir@yahoo.com dan m.sohir@gmail.com
Cerita yang dikirim akan diedit
seperlunya. Kirimlah cerita asli, bukan saduran/terjemahan/copas dari laman
yang lain. Cerita ini hanya untuk anak2 Indonesia, tidak menerima yang tidak
pantas untuk anak-anak.Jangan lupa sertakan nama, kelas, asal sekolah, alamat
dan biodata lain secukupnya.
BACA JUGA :
- BUAYA YANG BAIK
- HARIMAU DAN SINGA
- HARIMAU YANG NAKAL
- BERUANG YANG JAHAT
- SI BUTO SAKIT GIGI
- PERGI NAIK SEPEDA PANJANG
- KELINCI YANG SOMBONG
- PERSAHABATAN YANG SEJATI
- SHOPAHOLIC MODELS
BACA JUGA :
- BUAYA YANG BAIK
- HARIMAU DAN SINGA
- HARIMAU YANG NAKAL
- BERUANG YANG JAHAT
- SI BUTO SAKIT GIGI
- PERGI NAIK SEPEDA PANJANG
- KELINCI YANG SOMBONG
- PERSAHABATAN YANG SEJATI
- SHOPAHOLIC MODELS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar